موقف الحياة| Prinsip Hidup


Prinsip Hidup

وَعَيْنُ الرِّضَا عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيلَةٌ
وَلَكِنَّ عَيْنَ السُّخْطِ تُبْدِي الْمَسَاوِيَا

Artinya:

"Mata yang dipenuhi rasa suka (ridha/cinta) terhadap seseorang akan menjadi tumpul terhadap setiap kekurangannya. Namun mata yang dipenuhi rasa benci akan selalu menampakkan berbagai keburukan."

Atau dalam ungkapan yang lebih bebas:

"Jika hati telah menyukai seseorang, maka banyak kekurangannya tidak terlihat. Sebaliknya, jika hati telah membenci seseorang, maka sekecil apa pun kekurangannya akan tampak besar."


Siapakah pengarang syair ini?

Syair ini sangat sering dinisbatkan kepada Imam al-Syafi'i. Bahkan di Indonesia dan banyak kitab adab, orang sering menyebutnya sebagai "syair Imam Syafi'i".

Namun, penisbatan tersebut tidak kuat.

Para peneliti sastra Arab menjelaskan bahwa syair ini lebih kuat dinisbatkan kepada Abu al-Tayyib al-Mutanabbi, salah seorang penyair terbesar dalam sejarah sastra Arab. Dalam Diwan al-Mutanabbi, syair ini terdapat dalam salah satu qasidahnya.

Karena kepopulerannya, syair tersebut kemudian tersebar luas dan di berbagai daerah sering dinisbatkan kepada Imam al-Syafi'i, padahal tidak ditemukan dalam karya-karya yang otoritatif sebagai syair beliau.


Makna Balaghah yang Indah

Syair ini mengandung pelajaran psikologis yang sangat mendalam.

Al-Mutanabbi menggunakan dua ungkapan yang saling berlawanan (ṭibāq):

  • عين الرضا (mata yang dipenuhi rasa suka)
  • عين السخط (mata yang dipenuhi rasa benci)

Kemudian beliau menjelaskan akibat keduanya:

  • كليلة → tumpul, tidak peka melihat cacat.
  • تبدي المساويا → menampakkan seluruh keburukan.

Maksudnya, penilaian manusia sering dipengaruhi oleh keadaan hati, bukan semata-mata oleh fakta. Ketika seseorang mencintai atau menyukai orang lain, ia cenderung memaklumi kekurangannya. Sebaliknya, ketika ia membenci seseorang, ia cenderung hanya melihat sisi buruknya.

Makna ini juga sejalan dengan sebuah kaidah yang sering dikutip para ulama:

حُبُّكَ الشَّيْءَ يُعْمِي وَيُصِمُّ

"Cintamu kepada sesuatu dapat membuatmu buta dan tuli (terhadap kekurangannya)."

Ungkapan ini dikenal luas dalam literatur Islam, dan terdapat riwayat dengan lafaz yang mirip dalam kitab-kitab hadis, meskipun para ulama berbeda pendapat mengenai kekuatan sanadnya.

Syair ini menjadi pengingat agar kita bersikap adil dalam menilai orang lain, tidak membiarkan rasa cinta membutakan kita terhadap kesalahan, dan tidak pula membiarkan rasa benci membuat kita menolak semua kebaikan seseorang. Ini juga sejalan dengan prinsip Al-Qur'an:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

"Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (QS. Surah Al-Ma'idah: 8).

-----------------------

by: Saprudin (Penyuluh Agama Islam Mekar Baru)


Comments

Popular posts from this blog

Download Kitab "Hayatul Hayawan Al-Kubro" As-Syeikh Kamaludin Ad-Damiry

Fihi Ma Fihi