Sifat Orang Mukmin dalam Berinfak Menurut Al-Qur'an: Tidak Kikir dan Tidak Boros


Sifat Orang Mukmin Adalah Bersikap Pertengahan dalam Membelanjakan Hartanya

Harta merupakan salah satu nikmat terbesar yang Allah ﷻ titipkan kepada manusia. Dalam pandangan Islam, harta bukan sekadar alat untuk memenuhi kebutuhan hidup, melainkan juga amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Karena itu, seorang mukmin tidak hanya dituntut untuk mencari harta dengan cara yang halal, tetapi juga diwajibkan membelanjakannya secara benar. Islam mengajarkan prinsip wasathiyyah (pertengahan), yaitu tidak bersikap kikir dan tidak pula berlebih-lebihan.

Sikap inilah yang menjadi salah satu ciri orang-orang beriman sebagaimana disebutkan oleh Allah ﷻ dalam Al-Qur'an.

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا

Artinya:

"Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir, tetapi berada di tengah-tengah antara keduanya."

(QS. Al-Furqan: 67)

Ayat ini merupakan salah satu gambaran indah mengenai akhlak seorang mukmin. Allah tidak memuji orang yang menghambur-hamburkan hartanya tanpa manfaat, tetapi juga tidak memuji orang yang terlalu pelit hingga enggan menunaikan hak Allah dan hak sesama manusia.


Makna Israf dan Iqtar Menurut Para Ulama

Dalam tafsirnya, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan الإسراف (israf) ialah melampaui batas dalam membelanjakan harta, sedangkan الإقتار (iqtar) berarti terlalu menyempitkan nafkah sehingga mengurangi hak yang seharusnya diberikan.

Sementara itu, Imam Al-Qurthubi menerangkan bahwa seorang mukmin hendaknya menjadikan hartanya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, bukan sebagai jalan untuk bermegah-megahan ataupun menahan hak orang lain.

Oleh karena itu, keseimbangan merupakan akhlak yang paling utama dalam menggunakan harta.


Larangan Bersikap Kikir

Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ

Artinya:

"Janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (terlalu kikir)."

Kemudian Allah melanjutkan:

وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَّحْسُورًا

Artinya:

"Dan jangan pula engkau mengulurkannya secara berlebihan, sehingga engkau menjadi tercela lagi menyesal."

(QS. Al-Isra': 29)

Ayat ini menggambarkan dua sikap yang sama-sama tercela.

Orang yang terlalu pelit akan dijauhi manusia dan kehilangan keberkahan hartanya.

Sebaliknya, orang yang boros akan menyesal karena hartanya habis tanpa manfaat.

Islam mengajarkan jalan tengah, yaitu membelanjakan harta sesuai kebutuhan dan sesuai tuntunan syariat.


Infak Tidak Akan Mengurangi Harta

Banyak orang takut berinfak karena khawatir hartanya akan berkurang.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

Artinya:

"Sedekah tidak akan mengurangi harta."

(Hadis riwayat Sahih Muslim)

Hadis yang singkat ini mengandung makna yang sangat dalam.

Secara lahiriah memang jumlah harta tampak berkurang, tetapi Allah menggantinya dengan keberkahan, ketenangan hati, kemudahan rezeki, atau pahala yang berlipat ganda di akhirat.


Mukmin yang Dermawan Dicintai Allah

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى

Artinya:

"Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah."

(Muttafaq 'alaih)

Maksudnya adalah tangan yang memberi lebih utama daripada tangan yang meminta.

Seorang mukmin selalu berusaha menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain sesuai dengan kemampuan yang Allah karuniakan kepadanya.


Berinfak dengan Bijaksana adalah Jalan Keberkahan

Islam tidak mengajarkan seseorang menghabiskan seluruh hartanya hingga keluarganya terlantar.

Sebaliknya, Islam juga tidak mengajarkan menumpuk kekayaan tanpa memperhatikan hak fakir miskin.

Seorang mukmin hendaknya mampu menyeimbangkan antara:

  • memenuhi kebutuhan keluarga;

  • menunaikan zakat;

  • memperbanyak infak dan sedekah;

  • membantu kerabat;

  • memakmurkan masjid;

  • mendukung dakwah Islam.

Dengan keseimbangan inilah harta menjadi sebab datangnya keberkahan, bukan sekadar kekayaan.


Penutup

Salah satu ciri orang-orang beriman adalah mampu mengendalikan dirinya ketika menggunakan harta. Ia tidak menjadi hamba dunia yang kikir, namun juga tidak terjerumus dalam sikap boros yang dilarang agama.

Sebagaimana firman Allah ﷻ:

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang pandai mensyukuri nikmat harta, gemar berinfak di jalan Allah, dan mampu membelanjakan rezeki secara adil, bijaksana, serta penuh keberkahan.

اللهم ارزقنا مالًا حلالًا طيبًا، واجعلنا من المنفقين في سبيلك، ولا تجعل الدنيا أكبر همنا. آمين.

Comments