SELAMAT JALAN SANG LEADER

KETEGUHANMU ADALAH MENTAL MUSLIM SEJATI 



MasyaAllah…  Di zaman sekarang, ketika teknologi semakin canggih dan jarak semakin dekat, justru hati sebagian manusia terasa makin jauh. Media sosial yang seharusnya menjadi sarana silaturahmi, sering berubah menjadi arena saling hujat, saling serang, dan saling menjatuhkan. Perbedaan golongan, organisasi, bahkan perbedaan cara pandang dalam cabang-cabang fiqih, menjadi sebab retaknya ukhuwah.

Padahal, jika kita kembali kepada ajaran Islam yang murni, bukankah kalimat syahadat adalah simpul persaudaraan kita?

Bukankah....

المسلم أخو المسلم
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya.”

Selama ia mengucapkan Laa ilaaha illallah, Muhammadur Rasulullah, maka darahnya, kehormatannya, dan hartanya memiliki kemuliaan. Perbedaan manhaj, perbedaan organisasi, bahkan perbedaan metode dakwah tidak pernah membatalkan persaudaraan iman.

Allah ﷻ telah menegaskan dalam Al-Qur’an:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.”

Ayat ini tidak menyebut “sesungguhnya orang-orang beriman yang satu golongan itu bersaudara.” Tidak. Allah menyebut secara umum: al-mu’minun. Siapa pun yang beriman, ia adalah saudara.

Ironisnya, hari ini sebagian orang lebih mudah menyebut saudaranya sebagai sesat daripada mendoakannya. Lebih cepat membagikan aib daripada menutupinya. Lebih semangat memenangkan perdebatan daripada menjaga persatuan. Seakan-akan kebenaran hanya milik kelompoknya sendiri.

Padahal para ulama besar berbeda pendapat dalam banyak masalah, namun tetap saling menghormati. Lihat bagaimana Imam Syafi'i dan Imam Ahmad ibn Hanbal berbeda dalam sejumlah persoalan fiqih, namun hubungan mereka tetap dipenuhi adab dan penghormatan.

Perbedaan adalah keniscayaan. Tetapi permusuhan bukanlah konsekuensi dari perbedaan. Islam tidak melarang kita berbeda, tetapi melarang kita memecah belah.

Dan selama syahadatnya sama, selama kiblatnya sama, selama Tuhannya Allah dan Nabinya Muhammad ﷺ, maka ia adalah saudara kita. Saudara tidak harus selalu sepemikiran, tetapi tetap harus saling menjaga, saling mendoakan, dan saling membantu dalam kebaikan, terutama dalam pergerakan umat yang makin terpuruk karena Perpecahan.

Di tengah dunia yang gaduh oleh perdebatan, mungkin yang Allah butuhkan dari kita bukanlah menjadi “yang paling benar”, tetapi menjadi yang paling lembut hatinya.

Karena pada akhirnya, yang akan ditanya bukanlah: “Dari golongan mana engkau?”
Tetapi: “Seberapa engkau menjaga persaudaraan dan akhlakmu?”

Semoga Allah menjaga hati kita semua agar tetap lapang, bijak, dan mencintai persatuan umat. 🤍

Comments

Popular posts from this blog

Download Kitab "Hayatul Hayawan Al-Kubro" As-Syeikh Kamaludin Ad-Damiry

Download Audio mp3 Kitab Tashowuf "Salalim Al-Fudhola" Syeikh Nawawi Tanara